 |
| TELESKOP UNTUK KEPERLUAN HISAB RUKYAT |
LDII Bangkalan | Setiap tahun Kita selalu hiruk pikuk tentang penentuan 1 syawal, tapai apakah Kita tahu apa saja alat yang digunakan? ayo Kita coba cari tahu apa saja alat yang dipakai dalam penentuan hisab.
Rukyatul hilal adalah suatu kegiatan atau usaha
melihat hilal atau bulan sabit di langit (ufuk) sebelah barat sesaat setelah
matahari terbenam menjelang awal bulan baru, khususnya menjelang bulan
Ramadhan, Syawal, dan Dzulhijjah guna bahan penentuan kapan bulan baru itu
dimulai.
Hanya saja, ketika matahari terbenam atau sesaat setelah itu langit sebelah
barat berwarna kuning kemerah-merahan, sehingga antara cahaya hilal yang putih
kekuning-kuningan dengan warna langit yang melatarbelakanginya tidak begitu
kontras. Oleh sebab itu, bagi mata yang kurang terlatih melakukan rukyat
tentunya akan menemui kesulitan menentukan hilal yang dimaksudkan.
Apalagi
apabila di ufuk barat terdapat awan tipis atau awan tebal tidak merata atau
bahkan orang yang melakukan rukyah tidak mengetahui pada posisi mana
dimungkinkan hilal akan tampak, tentunya akan lebih mengalami kesulitan. Atas
dasar itulah, agar maksud dan tujuan pelaksanaan rukyatul hilal dapat tercapai
secara optimal, kiranya diperlukan persiapan-persiapan yang matang, baik
mengenai mental psikologis para pe-rukyah, penyediaan data hilal (hasil hisab),
serta peralatan dan perlengkapan yang memadai.
Beberapa peralatan/instrument yang dapat dimanfaatkan untuk membantu
pelaksanaan rukyat diantaranya :
1. Altimeter
Altimeter adalah alat pengukur ketinggian tempat dari permukaan laut. Alat ini
bersifat barometik, artinya pengukuran tinggi tempat yang didasarkan pada
tekanan udara suatu tempat dibandingkan dengan tempat lainnya, misalnya
permukaan air laut. Oleh karena itu, pada saat alat ini dipasang, kondisi udara
pada tempat yang dicari ketinggiannya dengan tempat yang menjadi standar
haruslah sama. Kondisi udara yang baik untuk setiap tempat adalah sekitar jam
10:00.
2. Binokuler
Binokuler adalah alat bantu untuk melihat benda-benda yang jauh. Binokuler ini
menggunakan lensa dan prisma. Alat ini berguna untuk memperjelas obyek
pandangan. Sehingga bisa digunakan untuk pelaksanaan rukyatul hilal.
3. Busur derajat
Busur derajat setengah lingkaran dan busur derajat lingkaran penuh untuk
membantu membuat garis orientasi arah hilal. Busur ini berdiameter lebih kurang
1 m agar diperoleh hasil ukur yang lebih teliti.
4. Gawang lokasi
Berbentuk segi empat dengan tiang di bawahnya digunakan untuk orientasi
pandangan lokasi hilal. Caranya dengan menempatkan alat di depan pengamat saat
matahari terbenam dan pengamat akan melihat terus ke arah bingkai rukyat yang
bisa diatur turun mengikuti gerakan hilal sampai terlihatnya hilal. Diperlukan
kemampuan khusus mengoperasikan alat ini mengikuti arah gerakan hilal.
5. GPS (Global Positioning System)
GPS (Global Positioning System) dapat menampilkan data geografis sebuah titik
lokasi di permukaan bumi via satelit secara akurat. Alat ini dapat digunakan
untuk mengetahui koordinat lintang dan bujur tempat suatu lokasi.
6. Jam digital
Untuk mengukur waktu saat rukyatul hilal sebaiknya digunakan jam portabel
digital dengan tampilan layar yang cukup besar. Sekarang model jam ini banyak
dijual di pasaran dengan harga yang sangat murah. Lebih diutamakan jam yang
memiliki lampu sehingga terlihat terang saat matahari sudah tenggelam. Yang
paling penting adalah mengkalibrasi /sinkronisasi jam sesuai waktu internet
atau jam RRI atau TVRI atau menghubungi 105. Dengan cukup mencocokkan jam dan
menitnya saja agar sesuai dengan hasil hisab.
7. Jam Istiwa’/Jam Surya
Disebut juga dengan jam matahari (sundial) karena cara kerja alat ini adalah
menggunakan bayangan matahari yang membentuk sudut tertentu.
8. Kalkulator
Kalkulator merupakan alat bantu hitung yang paling praktis untuk menyelesaikan
rumus-rumus hisab. Hanya saja untuk keperluan ini dipilih kalkulator scientific
dengan cirinya ada tombol sin, cos, dan tan. Untuk keperluan ilmu hisab sangat
dianjurkan kalkulator scientific 12 digit. Akan lebih praktis lagi seandainya
kalkulator juga dilengkapi dengan fasilitas pembuatan program untuk rumus-rumus
yang ada.
9. Kompas
Kompas digunakan untuk menunjukkan arah Barat khususnya pada kondisi titik
terbenamnya matahari tidak teridentifikasi. Dengan bantuan kompas sudut azimuth
matahari dan hilal dapat diidentifikasi, ini akan mempermudah orientasi
pencarian lokasi hilal.
10. Komputer
Komputer merupakan alat bantu hitung canggih yang juga harus dimanfaatkan.
Dengan program komputer ini, dalam waktu beberapa detik dapat diketahui posisi
hilal, ketinggian dan azimuthnya, waktu matahari terbenam, kapan hilal
terbenam, berapa kuat cahaya hilal dibandingkan dengan cahaya bulan purnama dan
sebagainya. Komputer bisa digunakan untuk pembuatan software (program) maupun
untuk menampilkan software-software ilmu hisab yang ada. Perkembangan teknologi
membuat perhitungan falak yang semula sulit menjadi mudah.
11. Meteran
Alat ukur panjang (meteran) sangat diperlukan saat melakukan kegiatan rukyatul
hilal terutama saat pemasangan gawang rukyat. Pembuatan garis-garis orientasi
arah hilal dibuat dengan membuat garis lintas arah mata angin menggunakan arah
matahari terbenam.
12. Rubu’ mujayyab
Rubu’ mujayyab adalah suatu alat hitung yang berbentuk segiempat lingkaran
untuk hitungan goneometris. Rubu’ ini biasanya terbuat dari kayu atau semacamnya
yang salah satu mukanya dibuat garis-garis skala sedemikian rupa. Sebagai alat
peninggalan peradaban falak Islam masa lalu, rubu’ ternyata mampu menyelesaikan
hitungan-hitungan trigonometri yang cukup teliti untuk masa itu. Alat ini
sangat berguna untuk memproyeksikan peredaran benda-benda langit pada bidang
vertikal. Alat ini termasuk kuno peninggalan ahli-ahli Falak Islam jaman dulu.
Saat rukyatul hilal rubu’ digunakan untuk mengukur sudut ketinggian hilal
(irtifa'). Sering disebut dengan istilah kuadrant.
13. Sektan
Sektan adalah sebuah perkakas astronomi yang dapat digunakan untuk menentukan
jarak sudut sebuah benda langit dari horizon. Sektan ini bisa digunakan pula
untuk mengarahkan pandangan ketika pelaksanaan rukyatul hilal.
14. Theodolit
Peralatan ini termasuk modern karena dapat mengukur sudut azimuth dan
ketinggian/altitude (irtifa') secara lebih teliti dibanding kompas dan rubu’.
Theodolit yang modern dilengkapi pengukur sudut secara digital dan teropong
pengintai yang cukup kuat.
15. Teleskop
Teleskop adalah alat bantu untuk melihat benda-benda yang jauh. Teleskop ini
menggunakan lensa yang berguna untuk memperjelas objek pandangan. Teleskop
rukyat tidak berbeda dengan teleskop astronomi pada umumnya yang juga disebut
teropong bintang namun dudukannya dirancang dapat bergerak 2 sumbu yaitu
naik-turun (altitude) dan horisontal (azimuth) sehingga disebut dudukan
alt-azimuth. Berbeda dengan jenis sumbu yang sering dipakai dalam astronomi
yaitu menggunakan 3 sumbu yang disebut dudukan equatorial (EQ mount). Kekuatan
teleskop dinyatakan dengan diameter lensa obyektif untuk refraktor dan diameter
cermin obyektif untuk reflektor serta jarak fokur obyektif. Teleskop dengan
spesifikasi 12"/3000 artinya diameter lensa/cermin adalah 8" (sekitar
30 cm) dan jarak fokusnya 3000 mm. Kekuatan teleskop juga dinyatakan dengan
pembesaran maksimumnya misalnya 500x dsb. Berdasarkan pengalaman lapangan
teleskop tidak selalu efektif digunakan untuk rukyatul hilal. Hal ini mengingat
ukuran hilal sudah cukup besar sekitar 30 arcminute atau 0,5 derajat busur
sehingga dengan pembesaran 50x saja bulatan bulan sudah menutup medan pandang
teleskop. Sebab yang diperlukan sebenarnya adalah bukan pembesaran obyek
melainkan penguatan cahaya hilal yang sangat lemah dikuatkan oleh teleskop
sehingga dapat terlihat oleh pengamat. Oleh sebab itu sangat cocok digunakan
untuk rukyat adalah teleskop yang memiliki diameter lensa/cermin cukup besar
agar dapat mengumpulkan cahaya lebih banyak serta memiliki medan pandang
sekitar 1°saja.
16. Tongkat istiwa
Tongkat istiwa adalah alat sederhana yang terbuat dari tongkat yang ditancapkan
tegak lurus pada bidang datar dan diletakkan di tempat tebuka agar mendapat
sinar matahari. Alat ini berguna untuk menentukan waktu matahari hakiki,
menentukan titik arah mata angin, dan menentukan tinggi matahari.
17. Waterpass
Waterpass digunakan untuk menstabilkan peralatan agar betul-betul datar
posisinya.
Pengamatan kondisi perawanan terutama di langit barat tempat tenggelamnya
matahari merupakan hal yang paling penting saat pelaksanaan rukyatul hilal,
sebab tanpa kondisi langit yang cerah pengamatan hilal akan mengalami kesulitan
bahkan mustahil dilakukan. Oleh sebab itulah maka perukyat juga dituntut
memiliki pengetahuan meteorologi atau ilmu cuaca.
Sumber data:
1. Farid Ruskanda, 100 Masalah Hisab & Rukyat, Jakarta: Gema Insani Press,
1996.
2. Muhyiddin Khazin, Kamus Ilmu Falak, Jogjakarta: Buana Pustaka, Cetakan
Pertama, 2005.
3. Muhyiddin Khazin, 99 Tanya Jawab Masalah Hisab & Rukyat, Yogyakarta:
Ramadhan Press, 2009.
4. Susiknan Azhari, Ensiklopedi Hisab Rukyat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
2008.
5. http://rukyatulhilal.org/
6. http://falakindonesia.wordpress.com/about/
7.Gambar media.viva.id